Prestasi akademik sering kali dijadikan tolok ukur utama keberhasilan seorang anak. Nilai yang tinggi, peringkat kelas, dan sederet target belajar kerap membuat orang tua merasa tenang dan bangga. Namun, di balik senyum anak dan ucapan “aku baik-baik saja”, bisa saja tersembunyi tekanan yang tidak pernah mereka ungkapkan.

Tanpa disadari, tuntutan akademik yang berlebihan dapat berdampak pada kesehatan mental dan emosional anak. Tekanan ini bisa membuat mereka merasa kewalahan, kehilangan motivasi, bahkan menarik diri secara perlahan. Lalu, bagaimana cara mengetahui apakah anak Anda sebenarnya sedang berjuang dalam diam? Berikut adalah tiga tanda tekanan akademik yang sering luput dari perhatian orang tua.

 

Menghindari Aktivitas Sosial dan Kehilangan Minat Pada Hobi

Apakah anak Anda yang dulu aktif dan punya banyak teman kini lebih sering mengurung diri di kamar? Atau mungkin mereka mulai menolak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang dulu sangat mereka sukai?

Perubahan ini bisa menjadi sinyal bahwa si kecil sedang menghadapi tekanan sosial di sekolah—seperti bullying, kesulitan bersosialisasi, atau rasa tidak aman di lingkungan sekitarnya. Ketika anak kehilangan minat pada hobi atau kegiatan yang sebelumnya mereka nikmati, ini merupakan tanda peringatan serius yang tidak boleh diabaikan.

Stres yang berkepanjangan dapat mengikis motivasi dan menghilangkan kesenangan dalam aktivitas sehari-hari. Anak mungkin merasa terlalu lelah secara mental dan emosional, sehingga enggan terlibat dalam kegiatan yang sebenarnya bisa membantu meredakan stres mereka.

 

Perubahan Nafsu Makan

Stres bisa memengaruhi banyak aspek dalam kehidupan anak, termasuk pola makannya. Nafsu makan mereka bisa berubah secara drastis—naik atau justru menurun.

Jika anak terlihat susah makan, mereka mungkin beralasan bahwa makanannya tidak enak atau merasa tidak lapar. Namun, di balik itu, bisa saja ada tekanan emosional yang sedang mereka hadapi. Sebaliknya, jika nafsu makannya meningkat, anak bisa jadi lebih sering ngemil, merasa cepat lapar, atau terus mencari makanan meski baru saja makan. Pola makan seperti ini juga bisa menjadi cara tubuh merespons stres secara tidak sadar.

 

Merasa Takut

Salah satu ciri stres pada si kecil yang sering luput dari perhatian adalah munculnya rasa takut yang tiba-tiba. Anak yang biasanya berani, tiba-tiba menjadi takut berada sendiri, gelisah saat berada di ruangan gelap, cemas jika ditinggal orang tua, atau merasa tidak nyaman saat bertemu orang asing.

Jika sebelumnya si kecil dikenal cukup percaya diri dan tidak mudah takut, perubahan perilaku ini bisa menjadi sinyal bahwa mereka sedang mengalami tekanan atau stres emosional. Perubahan ini adalah bentuk respon alamiah tubuh terhadap rasa tidak aman atau ketidaknyamanan yang sulit mereka ungkapkan dengan kata-kata.

BACA JUGA: Mengapa Anak Cerdas Itu Terkadang Belum Tentu Berprestasi di Sekolah?