Korea Selatan kerap disebut sebagai salah satu negara dengan sistem pendidikan paling kompetitif di dunia. Tak sedikit orang mengagumi tingginya prestasi akademik pelajar di sana. Disertai etos belajar yang luar biasa disiplin dan tekun. Namun, di balik semua pencapaian itu, ada sisi lain yang jarang disorot: sebuah realitas yang menyimpan banyak tekanan, tuntutan, dan beban psikologis yang besar bagi para siswa.

Sistem pendidikan Korea Selatan tidak hanya menekankan pencapaian nilai yang tinggi. Tetapi juga mencerminkan budaya kompetisi yang intens, bahkan sejak usia dini. Siswa dituntut untuk terus berada di jalur unggul—baik dalam akademik maupun dalam kegiatan non-akademik. Tekanan datang dari berbagai arah: dari sekolah, keluarga, hingga masyarakat. Keberhasilan dalam pendidikan dianggap sebagai tiket utama menuju masa depan yang cerah. Menjadikan siswa kerap terjebak dalam rutinitas belajar yang nyaris tanpa jeda.

Di satu sisi, dedikasi dan semangat belajar masyarakat Korea Selatan memang layak diacungi jempol. Tapi di sisi lain, ritme pendidikan yang ekstrem sering kali menimbulkan kelelahan fisik dan mental yang tidak sedikit. Fenomena ini menunjukkan bahwa keberhasilan akademik yang tinggi bukan berarti tanpa konsekuensi. Inilah potret kompleks dari sistem pendidikan Korea Selatan—penuh semangat, tapi juga penuh tekanan.


Belajar hingga 16 Jam Sehari: Antara Disiplin dan Kelelahan

Salah satu fakta paling mencengangkan dari dunia pendidikan Korea Selatan adalah panjangnya waktu belajar siswa setiap harinya. Bayangkan, banyak siswa di sana belajar hingga 14–16 jam per hari. Aktivitas mereka dimulai sejak pagi di sekolah formal, dilanjutkan dengan kelas tambahan di institusi swasta (dikenal sebagai hagwon). Dan berakhir pada malam hari ketika sebagian besar siswa lain di negara lain mungkin sudah beristirahat.

Tak jarang, para siswa baru pulang ke rumah menjelang tengah malam, hanya untuk bangun kembali di pagi hari dan mengulangi rutinitas yang sama. Waktu untuk bersantai, bermain, atau bahkan sekadar berbicara dengan keluarga menjadi sangat terbatas. Sering kali, tekanan belajar ini bahkan membuat anak-anak usia sekolah mengalami kelelahan kronis dan masalah kesehatan seperti gangguan penglihatan akibat terlalu sering menatap buku atau layar.

Jika dibandingkan dengan jam belajar di Indonesia, tentu perbedaannya sangat mencolok. Di Indonesia, rata-rata siswa belajar di sekolah selama 6–8 jam sehari, dan kegiatan tambahan pun tidak seintens di Korea Selatan. Hal unik yang muncul dari rutinitas belajar di sana adalah rendahnya tingkat kenakalan remaja, seperti tawuran. Waktu dan energi siswa benar-benar terserap oleh kegiatan akademik dan persiapan ujian, meninggalkan sedikit ruang untuk hal-hal negatif.


Banyaknya Mata Pelajaran dan Peran Ekstrakurikuler

Di sekolah Korea Selatan, siswa harus mempelajari setidaknya sepuluh mata pelajaran inti: Bahasa Korea, Etika, Studi Sosial, Matematika, Sains, Praktikum, Pendidikan Jasmani, Musik, Seni Rupa, dan Bahasa Inggris. Menariknya, pelajaran Bahasa Inggris biasanya baru diajarkan secara resmi saat siswa memasuki kelas tiga sekolah dasar. Meski begitu, sebagian besar orang tua sudah mulai mengikutkan anak-anak mereka ke les bahasa Inggris sejak usia dini untuk mempersiapkan mereka lebih awal.

Selain mata pelajaran akademik, kegiatan ekstrakurikuler juga memiliki peran penting dalam sistem pendidikan di Korea. Ekskul tidak hanya berfungsi sebagai sarana pengembangan bakat dan minat, tetapi juga menjadi bagian dari portofolio yang bisa memperkuat posisi siswa saat mendaftar ke perguruan tinggi. Universitas ternama di Korea kerap menilai siswa berdasarkan keseluruhan aktivitas mereka selama masa sekolah, termasuk partisipasi dalam ekskul.

Dengan demikian, siswa tak hanya dituntut untuk unggul di bidang akademik, tapi juga harus aktif secara sosial dan menunjukkan prestasi di berbagai bidang lainnya. Hal ini menciptakan standar keberhasilan yang tinggi dan multifaset, namun juga bisa menjadi sumber tekanan tambahan.


Sekolah Sampai Hari Sabtu: Rutinitas yang Melelahkan

Berbeda dengan kebanyakan negara lain, termasuk Indonesia, sekolah di Korea Selatan masih berlangsung hingga hari Sabtu. Siswa mengikuti kegiatan belajar formal selama enam hari dalam seminggu, dengan hari Sabtu tetap diisi dengan pelajaran dan kegiatan tambahan. Tidak sedikit siswa yang bahkan tetap menghadiri kelas tambahan di akhir pekan.

Bagi sebagian besar pelajar, hari libur benar-benar menjadi sesuatu yang langka. Satu-satunya waktu luang yang tersedia biasanya hanya hari Minggu, itupun sering kali tetap digunakan untuk belajar mandiri atau mengerjakan tugas. Tak heran jika banyak siswa Korea Selatan mengalami kelelahan mental, burnout, dan bahkan mengalami tekanan psikologis yang cukup serius.

Bila dibandingkan dengan sistem di Indonesia, di mana sebagian besar sekolah libur di hari Sabtu, kondisi ini membuat kita menyadari bahwa waktu istirahat dan pemulihan sangatlah penting untuk mendukung tumbuh kembang anak secara seimbang. Rutinitas belajar yang terlalu padat, tanpa jeda yang cukup, justru bisa menghambat produktivitas dan kreativitas siswa dalam jangka panjang.

BACA JUGA: Faktor Psikologis yang Mempengaruhi Prestasi Anak di Sekolah