Sebagai orang dewasa—baik sebagai guru maupun orang tua—kita kerap menganggap bahwa menegur atau memarahi anak di sekolah adalah bagian wajar dari proses mendisiplinkan. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: Apa yang sebenarnya anak rasakan saat dimarahi oleh gurunya?

Bagi anak-anak, teguran atau kemarahan dari guru bukan sekadar momen sepele yang bisa mereka lupakan begitu saja. Pengalaman ini bisa meninggalkan kesan mendalam, memengaruhi harga diri, motivasi belajar, bahkan membentuk cara mereka memandang otoritas dan sekolah secara keseluruhan.

Artikel ini mengajak kita memahami isi hati anak saat mereka dimarahi, dan bagaimana pendekatan yang lebih empatik justru bisa menciptakan pembelajaran yang lebih efektif dan manusiawi.


1. “Aku Malu… Semua Orang Melihat Aku!”

Reaksi emosional paling umum dari anak yang dimarahi di depan kelas adalah rasa malu. Bagi anak-anak, terutama usia SD hingga remaja, penerimaan dari teman sebaya adalah hal yang sangat penting. Ketika teguran diberikan di depan umum, mereka tidak hanya merasa bersalah, tetapi juga terhina atau bahkan tersisih secara sosial.

Apa dampaknya?

  • Anak menjadi enggan berbicara atau tampil di depan kelas karena takut salah.

  • Mereka bisa mulai menarik diri dari pergaulan karena rasa minder.

  • Pada beberapa kasus, anak mungkin merespons dengan sikap sinis, agresif, atau bahkan membenci sekolah.

Solusi yang lebih empatik: Alih-alih menegur di depan umum, guru bisa mengajak anak berbicara secara pribadi. Koreksi yang disampaikan dengan tenang dan penuh respek cenderung lebih diterima, tanpa merusak harga diri anak.


2. “Apa Aku Anak Nakal?”

Anak-anak sering berpikir secara hitam-putih. Ketika mereka dimarahi, mereka bisa menyimpulkan bahwa mereka adalah anak yang buruk, bukan hanya bahwa tindakannya keliru. Sayangnya, jika ini terjadi berulang kali, anak bisa mulai melabeli dirinya sendiri secara negatif.

Potensi akibatnya:

  • Munculnya rasa tidak layak atau tidak berharga.

  • Anak merasa dicap buruk oleh guru dan menjauh dari hubungan yang positif.

  • Mereka kehilangan motivasi untuk memperbaiki diri karena merasa sudah “terlanjur jelek.”

Solusi yang membangun: Pisahkan antara perilaku dan identitas anak. Gunakan kalimat seperti, “Perilakumu tadi perlu diperbaiki,” alih-alih mengatakan, “Kamu anak yang bandel.” Dengan begitu, anak tahu bahwa ia tetap berharga meski berbuat salah.


3. “Guruku Tidak Suka Aku…”

Ketika teguran diberikan secara kasar, berulang, atau tanpa disertai penjelasan, anak bisa merasa tidak disukai. Perasaan ini bisa menciptakan jarak emosional yang menghambat proses belajar.

Tanda-tanda yang sering muncul:

  • Anak menjadi enggan berinteraksi dengan guru tersebut.

  • Nilai akademik menurun karena kehilangan semangat.

  • Anak merasa tidak aman secara emosional di lingkungan kelas.

Solusi empatik: Setelah menegur, berikan afirmasi positif. Misalnya, “Saya tahu kamu anak yang pintar, kita cari cara supaya kamu bisa lebih fokus, ya.” Kalimat ini menegaskan bahwa guru tetap peduli dan menghargai anak.


4. “Aku Gak Tahu Salahku Apa…”

Tidak semua anak memahami alasan di balik teguran. Bagi anak usia dini terutama, teguran tanpa penjelasan bisa menimbulkan kebingungan dan perasaan tidak adil.

Dampaknya:

  • Anak bisa mengulangi kesalahan karena tidak tahu apa yang sebenarnya salah.

  • Timbul perasaan frustrasi atau bingung terhadap aturan yang berlaku.

  • Ketakutan yang tidak sehat terhadap guru atau sekolah bisa muncul.

Solusi edukatif: Jelaskan secara konkret apa yang salah, mengapa hal itu tidak diperbolehkan, dan apa konsekuensinya. Libatkan anak dalam dialog, bukan hanya monolog. Dengan begitu, mereka belajar memahami dan bertanggung jawab, bukan sekadar takut dihukum.

BACA JUGA: Beberapa Aplikasi Belajar Paling Unik yang Belum Banyak Diketahui