Lingkungan sekolah seharusnya menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi setiap siswa untuk belajar serta berkembang. Namun, pada kenyataannya, kasus bullying masih kerap terjadi dan bahkan menunjukkan kecenderungan meningkat di berbagai sekolah. Perilaku ini tidak hanya berdampak buruk pada kondisi mental dan emosional korban, tetapi juga merusak iklim pendidikan secara keseluruhan.

Maraknya bullying di lingkungan sekolah menimbulkan pertanyaan penting: mengapa perilaku ini masih terus terjadi? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, diperlukan pemahaman yang menyeluruh mengenai berbagai faktor yang melatarbelakangi terjadinya bullying, baik dari sisi individu, lingkungan sosial, maupun sistem pendidikan itu sendiri.

 

Budaya senioritas

Sebagian besar perilaku bullying di sekolah dilakukan oleh siswa yang tingkatannya lebih tinggi terhadap siswa yang lebih rendah, atau yang dikenal dengan budaya senioritas. Para senior sering merasa memiliki kekuasaan sehingga menuntut adik kelas untuk patuh dan tunduk.

Ironisnya, siswa yang pernah menjadi korban bullying kerap mengulangi perilaku yang sama dengan alasan bahwa adik kelas juga harus merasakan perlakuan serupa. Pola ini menciptakan siklus bullying yang berulang, sehingga budaya senioritas perlu dihapuskan dari lingkungan pendidikan. Biasanya, siswa yang dianggap lemah atau tidak berani melawan maupun melapor kepada guru menjadi sasaran utama tindakan ini.

 

Kurang mendapatkan perhatian dari keluarga dan orang di sekitarnya

Kurangnya perhatian dan kasih sayang dapat menjadi salah satu penyebab terjadinya bullying. Anak yang merasa diabaikan sering kali berusaha mencari perhatian melalui perilaku negatif, seperti tidak mengerjakan tugas sekolah atau melanggar aturan.

Ketika upaya tersebut tidak berhasil menarik perhatian, anak dapat melakukan tindakan yang lebih ekstrem, termasuk melakukan bullying terhadap teman sebaya. Perilaku ini muncul sebagai bentuk pelampiasan sekaligus cara untuk mendapatkan perhatian yang selama ini tidak mereka peroleh.

 

Pernah menjadi menjadi korban bully

Seseorang yang pernah menjadi korban bullying, seperti diejek atau mengalami kekerasan fisik, berpotensi melakukan perundungan terhadap orang lain. Perilaku tersebut kerap muncul sebagai bentuk pelampiasan atas trauma dan tekanan emosional yang pernah dialaminya.

Untuk mencegah hal ini, peran orang-orang terdekat sangat penting dalam mengenali perubahan perilaku yang terjadi. Dengan memberikan dukungan, arahan, dan pendampingan yang tepat, individu tersebut dapat dibantu untuk menghadapi pengalaman masa lalu secara lebih bijak dan tidak melampiaskannya kepada orang lain.

 

Cara Mencegah Agar Tidak Terjadi Bullying

Untuk mencegah dan mengurangi perilaku bullying sejak dini, ada beberapa langkah penting yang dapat diajarkan kepada anak atau anggota keluarga yang masih kecil:

  • Bangun komunikasi yang terbuka agar anak merasa aman untuk bercerita tentang pengalaman di sekolah.
  • Tumbuhkan rasa percaya diri dengan membantu anak mengenali kemampuan dan kelebihan dirinya.
  • Libatkan anak dalam kegiatan positif, seperti ekstrakurikuler, untuk mengembangkan bakat dan kemampuan bersosialisasi.
  • Tanamkan nilai antibullying dengan mengajarkan bahwa kekerasan, ejekan, maupun candaan yang menyakiti tidak dapat dibenarkan.
  • Ajarkan cara menghadapi bullying dan dorong anak untuk berani melapor kepada guru atau orang tua.

BACA JUGA: Sekolah Internasional Terbaik Di Jakarta, Cocok Untuk Daftarin Anak Anda