Guru memiliki peran penting dalam membentuk karakter, sikap, dan cara berpikir anak. Di sekolah, guru bukan hanya penyampai materi pelajaran, tetapi juga figur otoritas yang sangat berpengaruh terhadap kondisi emosional siswa. Oleh karena itu, cara guru berinteraksi dengan anak, termasuk saat menegur atau mendisiplinkan, dapat memberikan dampak jangka panjang terhadap kesehatan mental mereka.

Memarahi siswa kerap dianggap sebagai cara cepat untuk mendisiplinkan dan mengontrol kelas. Dalam situasi tertentu, teguran memang diperlukan agar anak memahami batasan dan tanggung jawabnya. Namun, jika dilakukan terlalu sering, dengan nada keras, atau disertai kata-kata yang merendahkan, kebiasaan ini justru dapat menimbulkan dampak negatif yang serius. Sayangnya, efek psikologis dari sering dimarahi guru sering kali tidak disadari, baik oleh pendidik maupun orang tua.

Menurunnya Rasa Percaya Diri Anak

Salah satu dampak paling umum dari anak yang sering dimarahi guru adalah menurunnya rasa percaya diri. Anak mulai merasa dirinya tidak mampu, selalu salah, atau tidak pernah cukup baik di mata orang dewasa. Teguran yang berulang, terutama di depan teman-teman sekelas, dapat membuat anak merasa dipermalukan dan tidak dihargai.

Dalam jangka panjang, anak dapat menginternalisasi kemarahan tersebut sebagai penilaian terhadap dirinya, bukan terhadap perilakunya. Mereka mulai percaya bahwa dirinya memang “bodoh”, “nakal”, atau “tidak berguna”. Rasa percaya diri yang rendah ini dapat memengaruhi keberanian anak untuk mencoba hal baru, bertanya di kelas, atau mengekspresikan pendapatnya.

Akibatnya, potensi akademik dan sosial anak tidak berkembang secara optimal. Anak menjadi pasif, takut salah, dan lebih memilih diam daripada mengambil risiko untuk belajar dan berkembang.

Munculnya Kecemasan dan Ketakutan Berlebihan

Sering dimarahi guru juga dapat memicu kecemasan pada anak. Anak menjadi takut datang ke sekolah, cemas setiap kali pelajaran tertentu dimulai, atau panik saat harus berinteraksi dengan guru. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat belajar yang aman justru berubah menjadi sumber tekanan.

Kecemasan ini dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti sulit berkonsentrasi, jantung berdebar, sakit perut, atau sakit kepala sebelum berangkat sekolah. Dalam beberapa kasus, anak bahkan menunjukkan gejala penolakan sekolah, seperti sering menangis atau mencari alasan untuk tidak masuk kelas.

Jika dibiarkan, rasa takut yang terus-menerus dapat berkembang menjadi gangguan kecemasan. Anak belajar bukan karena ingin memahami, tetapi semata-mata untuk menghindari kemarahan. Hal ini membuat proses belajar kehilangan makna dan berpotensi menimbulkan masalah mental yang lebih serius di kemudian hari.

Dampak Terhadap Motivasi dan Prestasi Belajar

Alih-alih meningkatkan disiplin, sering dimarahi justru dapat menurunkan motivasi belajar anak. Anak yang terus-menerus dikritik cenderung merasa usahanya tidak pernah cukup. Mereka menjadi tidak bersemangat mengerjakan tugas karena berpikir hasilnya tetap akan disalahkan.

Motivasi belajar yang menurun berpengaruh langsung pada prestasi akademik. Anak mungkin menjadi malas, tidak fokus, atau sengaja menghindari pelajaran tertentu. Dalam beberapa kasus, anak menunjukkan perilaku memberontak sebagai bentuk pelampiasan dari tekanan yang dirasakan.

Lebih jauh lagi, anak dapat mengembangkan pola pikir negatif terhadap belajar. Sekolah dipandang sebagai tempat yang menakutkan dan penuh tekanan, bukan sebagai ruang untuk tumbuh dan mengeksplorasi kemampuan diri.

Risiko Masalah Perilaku dan Emosi Jangka Panjang

Efek sering dimarahi guru tidak selalu berhenti di lingkungan sekolah. Anak dapat membawa luka emosional tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa anak menjadi sangat pendiam dan menarik diri, sementara yang lain justru menunjukkan perilaku agresif, mudah marah, atau melawan aturan.

Cara guru memperlakukan anak juga dapat membentuk cara anak memandang otoritas. Anak yang sering dimarahi tanpa penjelasan yang konstruktif bisa tumbuh dengan rasa tidak percaya terhadap figur dewasa. Mereka mungkin meniru pola komunikasi yang sama, menggunakan kemarahan sebagai cara menyelesaikan masalah.

Dalam jangka panjang, pengalaman negatif ini dapat memengaruhi konsep diri, kemampuan mengelola emosi, serta kualitas hubungan sosial anak. Inilah sebabnya dampak sering dimarahi guru tidak boleh dianggap sepele.

Peran Guru dan Orang Tua dalam Menjaga Kesehatan Mental Anak

Disiplin tetap penting dalam dunia pendidikan, namun cara penyampaiannya harus mempertimbangkan kondisi psikologis anak. Guru perlu membedakan antara menegur perilaku dan melabeli pribadi anak. Teguran yang jelas, tenang, dan disertai penjelasan akan jauh lebih efektif daripada kemarahan yang meledak-ledak.

Di sisi lain, orang tua juga perlu peka terhadap perubahan perilaku anak. Jika anak terlihat takut sekolah, murung, atau kehilangan semangat belajar, orang tua sebaiknya membuka ruang komunikasi yang aman. Mendengarkan cerita anak tanpa menghakimi dapat membantu mengungkap masalah yang sedang dialami.

Kolaborasi antara guru dan orang tua sangat penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang sehat. Anak membutuhkan bimbingan, bukan ketakutan. Dengan pendekatan yang lebih empatik dan suportif, disiplin dapat tetap ditegakkan tanpa harus mengorbankan kesehatan mental anak.

BACA JUGA: Apa Saja Kesalahan Umum Dalam Mengajarkan Coding ke Anak?