
Sekolah idealnya menjadi tempat yang menyenangkan bagi anak untuk belajar, tumbuh, dan menjalin pertemanan. Tapi kenyataannya, tak sedikit anak yang justru menunjukkan penolakan. Mulai dari ogah ogahan berangkat, sering mengeluh, sampai kehilangan semangat belajar. Situasi ini tentu membuat banyak orang tua cemas dan bertanya tanya: Apa Sebenarnya yang sedang terjadi?
Ketidaksukaan anak terhadap sekolah biasanya tidak muncul begitu saja. Ada banyak faktor yang bisa memengaruhinya, mulai dari lingkungan sekolah, kondisi emosional anak, hingga pola asuh di rumah. Dengan memahami akar permasalahannya, orang tua bisa mengambil langkah yang lebih tepat untuk membantu anak kembali. Merasa nyaman, aman, dan bahagia saat berada di sekolah.
Kesulitan Mengikuti Pelajaran di Sekolah
Cobalah untuk memeriksa buku PR dan hasil ulangan anak. Jika nilai yang dimilikinya cenderung rendah, hal ini bisa menjadi salah satu alasan mengapa ia enggan pergi ke sekolah. Permasalahan utama sering kali terletak pada kesulitan mengikuti pelajar di kelas. Anak mungkin merasa takut jika sewaktu waktu ditunjuk untuk mengerjakan soal di depan teman temannya. Rasa malu karena nilai yang selalu lebih rendah dari teman temannya pun bisa semakin memengaruhi kepercayaan dirinya. Duduk mengikuti pelajaran selama berjam jam justru membuatnya semakin bingung dan kewalahan.
Dalam situasi seperti ini, orang tua perlu menjalin komunikasi yang terbuka dengan guru atau wali kelas untuk mengetahui di mana letak kesulitan anak dalam belajar. Apakah kelemahan tersebut masih dapat diatasi dengan tambahan waktu belajar di rumah? Atau mungkin diperlukan bantuan profesional, seperti psikolog pendidikan, untuk mengetahui apakah ada gangguan belajar yang lebih serius? Langkah awal ini penting agar anak tidak terus menerus merasa tertekan dan dapat kembali menemukan rasa percaya diri serta semangat belajarnnya.
Pengaruh Dalam Pergaulannya
Pergaulan anak juga merupakan aspek penting yang perlu mendapat perhatian dari orang tua. Anak yang sangat dekat dengan sekolom teman cenderung mengikuti perilaku mereka, baik yang positif maupun negatif. Jika teman temannya terbiasa bolos sekolah, ada kemungkinan besar anak akan terdorong untuk melakukan hal yang sama. Hal ini bisa dipicu oleh rasa solidaritas, ketergantungan emosional terhadap kelompok pertemanan. Atau sekedar merasa bahwa sekolah tidak menyenangkan tanpa kehadiran mereka. Bahkan, tak jarang alasan bolos bergeser menjadi keinginan untuk bermain gim atau bersantai di rumah bersama teman teman.
Karena itu, sangat penting bagi orang tua untuk mengenal lebih dekat siapa saja teman teman anaknya. Anak juga perlu dibimbing untuk dapat memilih lingkungan pertemanan yang memebrikan pengaruh positif bagi dirinya. Memang, tidak bisa dihindari bahwa dalam proses tumbuh kembangnya. anak akan bertemu dengan berbagai tipe teman, termasuk yang kurang antusias terhadap sekolah. Namun, ia tetap bisa diarahkan untuk lebih dekat dengan teman teman yang memiliki semangat belajar dan sikap yang mendukung perkembangan dirinya ke arah yang lebih baik. Dengan pendampingan yang konsisten dan komunikasi yang terbuka. Anak dapat belajar memilah pergaulan yang sehat dan membangun.
Anak Menjadi Korban Perundungan
Perundungan dapat terjadi di mana saja dan sering kali luput dari perhatian orang tua. Ketika anak menolak pergi ke skeolah atau bereaksi berlebihan saat didorong untuk berangkat. Bisa jadi ia sedang berada dalam kondisi ketakutan. Ada kemungkinan anak telah menjadi korban bullying di lingkungan sekolahnya. Pengalaman tersebut tidak hanya berpotensi menimbulkan luka fisik. Tetapi juga meninggalkan dampak psikologis yang membuat anak merasa rumah adalah satu satunya tempat yang aman baginya.
Dalam situasi seperti ini, orang tua perlu bersikap lebih peka dan membuka ruang komunikasi yang aman bagi anak. Cobalah bertanya dengan lembut apakah ada teman yang bersikap kasar atau menyakitinya, serta apa saja yang telah dialaminya. Namun, jika anak terus memilih diam, hal itu bisa menjadi tanda bahwa ia berada di bawah tekanan atau ancaman dari pelaku perundungan. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas, orang tua juga dapat mencari informasi tambahan melalui sahabat dekat anak atau pihak lain yang ia percayai.
BACA JUGA: Apakah Sebuah Kegiatan Kerja Bakti di Sekolah Itu Berguna?
Leave a Reply