Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan literasi remaja justru menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan. Membaca bukan lagi menjadi kebiasaan, menulis terasa seperti beban, dan kemampuan memahami isi bacaan sering kalah cepat dibanding kebiasaan menggulir layar media sosial.

Fenomena ini bukan sekadar perubahan gaya belajar, melainkan sinyal adanya krisis literasi yang nyata di kalangan remaja. Krisis ini berdampak langsung pada menurunnya kemampuan berpikir kritis, menulis dengan struktur. Hingga menilai informasi secara objektif—keterampilan yang sangat penting untuk masa depan generasi muda. Lantas, bagaimana krisis ini bisa terjadi? Dan apa saja langkah konkret yang bisa dilakukan untuk menanganinya?

 

Memberikan Akses Pada Sumber Daya Literasi

Memberikan akses terhadap sumber daya bacaan seperti buku di perpustakaan, media elektronik, dan internet merupakan langkah penting untuk meningkatkan kemampuan literasi di kalangan anak-anak dan remaja. Dengan akses yang luas, mereka memiliki peluang lebih besar untuk mengeksplorasi beragam jenis bacaan sesuai minat dan kebutuhan.

Kebiasaan mengunjungi perpustakaan, meminjam buku, serta memanfaatkan bahan bacaan digital secara aktif dapat mendorong perkembangan keterampilan membaca dan menulis. Semakin banyak mereka terpapar materi bacaan yang berkualitas, semakin kuat pula fondasi literasi yang akan mereka bangun.

 

Biasakan Kegiatan Membaca Bersama Anak-anak

Baik Anda seorang orang tua, wali, guru, kakak, maupun tetangga, membacakan buku untuk anak-anak merupakan kegiatan yang sangat penting. Ini bukan hanya soal menyampaikan cerita, tetapi juga tentang memperkenalkan mereka pada dunia literasi sebelum mereka mampu membaca sendiri. Kegiatan ini menunjukkan bahwa orang dewasa dalam hidup mereka peduli, mau meluangkan waktu, dan hadir secara emosional.

Lebih dari sekadar rutinitas, membacakan buku memperkuat ikatan antara anak dan orang dewasa. Anak merasa diperhatikan dan disayangi, sementara Anda membangun hubungan yang lebih hangat dan bermakna. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini juga menanamkan cinta membaca yang akan membawa manfaat besar dalam perkembangan bahasa, imajinasi, dan empati anak.

 

Mengintegrasikan Literasi Dalam Kurikulum Sekolah

Sekolah perlu memastikan bahwa literasi terintegrasi secara menyeluruh dalam kurikulum mereka. Ini dapat dilakukan dengan menghadirkan berbagai proyek yang melibatkan aktivitas membaca, menulis kreatif, serta berpikir kritis dalam konteks yang menarik dan relevan bagi siswa.

Selain itu, pemanfaatan teknologi literasi seperti e-book, platform membaca digital, dan media online juga bisa menjadi sarana yang efektif untuk menumbuhkan minat literasi di kalangan pelajar. Dengan pendekatan yang variatif dan modern, literasi tidak hanya menjadi kewajiban akademik, tetapi juga bagian dari pengalaman belajar yang menyenangkan.

BACA JUGA: Belajar dari Negara Maju Jepang: Cara Mereka Membentuk Etika dan Disiplin Sejak Dini