
Jepang sering dipuji sebagai salah satu negara maju dengan masyarakat yang tertib, disiplin, dan memiliki etika sosial yang kuat. Budaya antre, kepedulian terhadap kebersihan, serta sikap saling menghormati bukanlah sesuatu yang muncul secara tiba-tiba. Nilai-nilai tersebut ditanamkan sejak usia dini melalui pendidikan formal, kebiasaan sehari-hari, dan keteladanan dari lingkungan sekitar.
Dari Jepang, kita dapat belajar bahwa kecerdasan dan prestasi tidak hanya dibentuk lewat pencapaian akademik, tetapi juga melalui pembentukan karakter. Disiplin, tanggung jawab, dan rasa hormat merupakan pondasi penting dalam kehidupan bermasyarakat. Lantas, bagaimana sebenarnya Jepang menanamkan nilai-nilai etika dan kedisiplinan ini sejak usia dini?
Haya Ne (Cepat Tidur)
Membiasakan anak tidur lebih awal merupakan langkah awal dalam melatih disiplin waktu. Tidur yang cukup tidak hanya menunjang kesehatan, tetapi juga mengoptimalkan perkembangan otak. Saat anak bangun pagi dalam kondisi segar dan bersemangat, mereka akan lebih siap menerima stimulasi serta pembelajaran dari lingkungan sekitarnya.
Usahakan agar anak tidur malam secara konsisten pada pukul 21.00. Tentu, pada awal penerapannya, kebiasaan ini mungkin terasa sulit. Terutama jika sebelumnya anak terbiasa tidur larut, sehingga tubuhnya belum terbiasa mengantuk pada waktu yang dijadwalkan. Namun, dengan pengkondisian yang konsisten setiap hari, anak akan perlahan menyesuaikan diri. Misalnya, setengah jam sebelum waktu tidur, orang tua bisa mulai mengajak anak bersiap-siap dengan rutinitas seperti menggosok gigi, mencuci tangan dan kaki, masuk kamar, lalu mematikan lampu. Yang terpenting, orang tua tidak hanya memberi perintah, tetapi juga ikut terlibat dalam rutinitas tersebut—menjadi contoh nyata bahwa tidur tepat waktu adalah kebiasaan bersama.
Asa Gohan (Sarapan)
Semangat untuk memulai hari sejak pagi sangat penting, terutama bagi anak-anak yang akan menjalani aktivitas belajar di sekolah. Agar mereka bisa fokus, aktif, dan menyerap pelajaran dengan baik, dibutuhkan stamina yang cukup serta energi yang optimal.
Inilah sebabnya mengapa sarapan pagi menjadi kebiasaan penting bagi anak-anak di Jepang sebelum berangkat ke sekolah. Sarapan bukan hanya mengisi perut yang kosong, tetapi juga menjadi bekal energi yang menunjang konsentrasi, daya pikir, dan suasana hati selama mereka belajar sepanjang hari.
Haya Oki (Cepat Bangun)
Pepatah Jawa mengatakan, “Bangun pagi, jika tidak, rezeki akan dipatok ayam.” Menariknya, nilai serupa juga dianut oleh masyarakat Jepang, yang sangat menjunjung tinggi kebiasaan bangun pagi sebagai bagian dari kedisiplinan hidup. Bahkan dalam ajaran Islam, waktu pagi disebut sebagai waktu yang penuh keberkahan.
Kebiasaan bangun pagi memberikan dampak yang luar biasa, terutama bagi anak-anak. Tubuh yang terasa segar di pagi hari membuat anak lebih siap memulai aktivitas tanpa rasa malas. Mereka pun dapat bersiap ke sekolah dengan semangat, fokus, dan energi yang positif sejak awal hari.
BACA JUGA: 3 Tanda Anak Anda Mengalami Tekanan Akademik Diam-Diam








