Tag: Pendidikan

Belajar dari Negara Maju Jepang: Cara Mereka Membentuk Etika dan Disiplin Sejak Dini

Jepang sering dipuji sebagai salah satu negara maju dengan masyarakat yang tertib, disiplin, dan memiliki etika sosial yang kuat. Budaya antre, kepedulian terhadap kebersihan, serta sikap saling menghormati bukanlah sesuatu yang muncul secara tiba-tiba. Nilai-nilai tersebut ditanamkan sejak usia dini melalui pendidikan formal, kebiasaan sehari-hari, dan keteladanan dari lingkungan sekitar.

Dari Jepang, kita dapat belajar bahwa kecerdasan dan prestasi tidak hanya dibentuk lewat pencapaian akademik, tetapi juga melalui pembentukan karakter. Disiplin, tanggung jawab, dan rasa hormat merupakan pondasi penting dalam kehidupan bermasyarakat. Lantas, bagaimana sebenarnya Jepang menanamkan nilai-nilai etika dan kedisiplinan ini sejak usia dini?

 

Haya Ne (Cepat Tidur)

Membiasakan anak tidur lebih awal merupakan langkah awal dalam melatih disiplin waktu. Tidur yang cukup tidak hanya menunjang kesehatan, tetapi juga mengoptimalkan perkembangan otak. Saat anak bangun pagi dalam kondisi segar dan bersemangat, mereka akan lebih siap menerima stimulasi serta pembelajaran dari lingkungan sekitarnya.

Usahakan agar anak tidur malam secara konsisten pada pukul 21.00. Tentu, pada awal penerapannya, kebiasaan ini mungkin terasa sulit. Terutama jika sebelumnya anak terbiasa tidur larut, sehingga tubuhnya belum terbiasa mengantuk pada waktu yang dijadwalkan. Namun, dengan pengkondisian yang konsisten setiap hari, anak akan perlahan menyesuaikan diri. Misalnya, setengah jam sebelum waktu tidur, orang tua bisa mulai mengajak anak bersiap-siap dengan rutinitas seperti menggosok gigi, mencuci tangan dan kaki, masuk kamar, lalu mematikan lampu. Yang terpenting, orang tua tidak hanya memberi perintah, tetapi juga ikut terlibat dalam rutinitas tersebut—menjadi contoh nyata bahwa tidur tepat waktu adalah kebiasaan bersama.

 

Asa Gohan (Sarapan)

Semangat untuk memulai hari sejak pagi sangat penting, terutama bagi anak-anak yang akan menjalani aktivitas belajar di sekolah. Agar mereka bisa fokus, aktif, dan menyerap pelajaran dengan baik, dibutuhkan stamina yang cukup serta energi yang optimal.

Inilah sebabnya mengapa sarapan pagi menjadi kebiasaan penting bagi anak-anak di Jepang sebelum berangkat ke sekolah. Sarapan bukan hanya mengisi perut yang kosong, tetapi juga menjadi bekal energi yang menunjang konsentrasi, daya pikir, dan suasana hati selama mereka belajar sepanjang hari.

 

Haya Oki (Cepat Bangun)

Pepatah Jawa mengatakan, “Bangun pagi, jika tidak, rezeki akan dipatok ayam.” Menariknya, nilai serupa juga dianut oleh masyarakat Jepang, yang sangat menjunjung tinggi kebiasaan bangun pagi sebagai bagian dari kedisiplinan hidup. Bahkan dalam ajaran Islam, waktu pagi disebut sebagai waktu yang penuh keberkahan.

Kebiasaan bangun pagi memberikan dampak yang luar biasa, terutama bagi anak-anak. Tubuh yang terasa segar di pagi hari membuat anak lebih siap memulai aktivitas tanpa rasa malas. Mereka pun dapat bersiap ke sekolah dengan semangat, fokus, dan energi yang positif sejak awal hari.

BACA JUGA: 3 Tanda Anak Anda Mengalami Tekanan Akademik Diam-Diam

Krisis Literasi di Kalangan Remaja: Bagaimana Cara Menanganinya?

Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan literasi remaja justru menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan. Membaca bukan lagi menjadi kebiasaan, menulis terasa seperti beban, dan kemampuan memahami isi bacaan sering kalah cepat dibanding kebiasaan menggulir layar media sosial.

Fenomena ini bukan sekadar perubahan gaya belajar, melainkan sinyal adanya krisis literasi yang nyata di kalangan remaja. Krisis ini berdampak langsung pada menurunnya kemampuan berpikir kritis, menulis dengan struktur. Hingga menilai informasi secara objektif—keterampilan yang sangat penting untuk masa depan generasi muda. Lantas, bagaimana krisis ini bisa terjadi? Dan apa saja langkah konkret yang bisa dilakukan untuk menanganinya?

 

Memberikan Akses Pada Sumber Daya Literasi

Memberikan akses terhadap sumber daya bacaan seperti buku di perpustakaan, media elektronik, dan internet merupakan langkah penting untuk meningkatkan kemampuan literasi di kalangan anak-anak dan remaja. Dengan akses yang luas, mereka memiliki peluang lebih besar untuk mengeksplorasi beragam jenis bacaan sesuai minat dan kebutuhan.

Kebiasaan mengunjungi perpustakaan, meminjam buku, serta memanfaatkan bahan bacaan digital secara aktif dapat mendorong perkembangan keterampilan membaca dan menulis. Semakin banyak mereka terpapar materi bacaan yang berkualitas, semakin kuat pula fondasi literasi yang akan mereka bangun.

 

Biasakan Kegiatan Membaca Bersama Anak-anak

Baik Anda seorang orang tua, wali, guru, kakak, maupun tetangga, membacakan buku untuk anak-anak merupakan kegiatan yang sangat penting. Ini bukan hanya soal menyampaikan cerita, tetapi juga tentang memperkenalkan mereka pada dunia literasi sebelum mereka mampu membaca sendiri. Kegiatan ini menunjukkan bahwa orang dewasa dalam hidup mereka peduli, mau meluangkan waktu, dan hadir secara emosional.

Lebih dari sekadar rutinitas, membacakan buku memperkuat ikatan antara anak dan orang dewasa. Anak merasa diperhatikan dan disayangi, sementara Anda membangun hubungan yang lebih hangat dan bermakna. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini juga menanamkan cinta membaca yang akan membawa manfaat besar dalam perkembangan bahasa, imajinasi, dan empati anak.

 

Mengintegrasikan Literasi Dalam Kurikulum Sekolah

Sekolah perlu memastikan bahwa literasi terintegrasi secara menyeluruh dalam kurikulum mereka. Ini dapat dilakukan dengan menghadirkan berbagai proyek yang melibatkan aktivitas membaca, menulis kreatif, serta berpikir kritis dalam konteks yang menarik dan relevan bagi siswa.

Selain itu, pemanfaatan teknologi literasi seperti e-book, platform membaca digital, dan media online juga bisa menjadi sarana yang efektif untuk menumbuhkan minat literasi di kalangan pelajar. Dengan pendekatan yang variatif dan modern, literasi tidak hanya menjadi kewajiban akademik, tetapi juga bagian dari pengalaman belajar yang menyenangkan.

BACA JUGA: Belajar dari Negara Maju Jepang: Cara Mereka Membentuk Etika dan Disiplin Sejak Dini

Lebih Baik Sekolah Negeri atau Swasta? Mana sih yang Lebih Baik untuk Masa Depan Anak?

“Lebih baik sekolah negeri atau swasta?” Pertanyaan ini sering menjadi dilema besar bagi banyak orang tua. Terutama saat harus menentukan pilihan pendidikan terbaik bagi anak mereka. Kedua opsi menawarkan keunggulan yang tampak menjanjikan. Mulai dari fasilitas, pendekatan kurikulum, hingga lingkungan belajar yang berbeda. Namun di balik perbandingan tersebut, ada satu hal penting yang sering terlupakan: sekolah yang baik bukan hanya soal label, tetapi tentang sejauh mana sekolah itu sesuai dengan kebutuhan, karakter, dan potensi unik anak.

Jadi, mana yang sebenarnya lebih baik untuk masa depan anak? Jawabannya tidak sesederhana hitam dan putih. Karena pada akhirnya, keputusan terbaik adalah yang paling selaras dengan siapa anak Anda sebenarnya—bukan berdasarkan tren, gengsi, atau asumsi semata, melainkan pemahaman yang mendalam akan apa yang benar-benar dibutuhkan anak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.

 

Sekolah Negeri

Sekolah negeri didirikan dan dikelola langsung oleh pemerintah. Salah satu keunggulan utamanya adalah keterjangkauan biaya serta penerapan standar kurikulum nasional yang seragam di seluruh Indonesia. Hal ini memberikan jaminan bahwa setiap siswa menerima materi pembelajaran yang selaras dengan acuan pendidikan nasional, tanpa perbedaan mencolok antar daerah.

Sebagian besar sekolah negeri juga mendapatkan dukungan dana operasional dari pemerintah, sehingga beban biaya pendidikan bagi orang tua menjadi jauh lebih ringan—bahkan ada yang sepenuhnya gratis. Bagi banyak keluarga, terutama yang memiliki keterbatasan finansial, aspek ini tentu menjadi pertimbangan penting dalam memilih sekolah untuk anak.

Kelebihan dan Kekurangannya

Kelebihan Sekolah Negeri

  • Biaya Gratis
    Disediakan oleh pemerintah tanpa pungutan, menjangkau semua kalangan.

  • Jalur Prestasi Beragam
    Tersedia banyak jalur prestasi, baik akademik maupun non-akademik.

  • Lingkungan Sosial yang Beragam
    Anak belajar bersosialisasi dengan teman dari berbagai latar belakang.

  • Sistem Zonasi
    Memudahkan akses pendidikan bagi anak dari keluarga kurang mampu atau dengan nilai akademik rata-rata.

  • Guru Bersertifikat
    Mayoritas guru memiliki kompetensi profesional yang mendukung proses belajar.


Kekurangan Sekolah Negeri

  • Fasilitas Terbatas
    Bergantung pada anggaran pemerintah, jadi tidak semua sekolah memiliki sarana lengkap.

  • Kelas Padat
    Jumlah murid yang banyak bisa mengurangi perhatian individual dari guru.

  • Kurang Fleksibel
    Mengikuti kurikulum nasional secara ketat, sehingga sulit menyesuaikan dengan pendekatan pembelajaran terkini.

 

Sekolah Swasta

Di sisi lain, sekolah swasta memiliki keleluasaan yang lebih besar dalam menyusun kurikulum dan metode pembelajaran. Mereka tidak sepenuhnya terikat pada standar nasional, sehingga dapat merancang program belajar yang lebih fleksibel dan kontekstual. Ini memberi ruang bagi sekolah untuk menyesuaikan materi ajar dengan minat, bakat, serta karakter unik setiap siswa.

Selain itu, rasio antara guru dan siswa di sekolah swasta umumnya lebih kecil dibandingkan sekolah negeri. Dengan jumlah murid yang lebih sedikit per kelas, guru memiliki kesempatan lebih besar untuk memberikan perhatian individual. Pendekatan ini memungkinkan proses pembelajaran yang lebih personal, di mana guru bisa benar-benar memahami kebutuhan, gaya belajar, serta perkembangan tiap anak secara mendalam. Hasilnya, anak bisa merasa lebih diperhatikan dan didukung dalam proses belajarnya.

Kelebihan dan Kekurangannya

Kelebihan Sekolah Swasta

  • Ukuran Kelas Lebih Kecil
    Jumlah siswa yang lebih sedikit per kelas memungkinkan guru berinteraksi lebih intensif secara langsung dan menyesuaikan strategi pembelajaran sesuai kebutuhan masing-masing anak.

  • Fasilitas dan Teknologi Lebih Lengkap
    Sekolah swasta umumnya memiliki fasilitas yang lebih modern serta program pendukung yang beragam dan terus berkembang.

  • Kurikulum Fleksibel dan Kompetitif
    Kurikulum dapat disesuaikan dengan potensi, minat, dan gaya belajar siswa, serta cenderung lebih kompetitif dan inovatif dibanding sekolah negeri.


Kekurangan Sekolah Swasta

  • Biaya Pendidikan Tinggi dan Tidak Merata
    Pendanaan sekolah swasta berasal dari orang tua. Dalam beberapa kasus, besarnya kontribusi orang tua dapat memengaruhi prioritas fasilitas atau perhatian yang diterima anak.

  • Keterbatasan Keberagaman Sosial
    Karena umumnya diisi oleh siswa dari latar belakang sosial ekonomi tertentu, sekolah swasta cenderung memiliki keragaman yang lebih rendah, yang dapat memengaruhi kemampuan anak dalam beradaptasi atau bersosialisasi dengan teman yang berbeda latar belakang.

  • Regulasi dan Pengawasan Kurang Ketat
    Beberapa sekolah swasta memiliki kebijakan internal yang lebih longgar dan pengawasan yang tidak seketat sekolah negeri, sehingga potensi masalah internal bisa berdampak pada kualitas proses belajar mengajar.

BACA JUGA: Krisis Literasi di Kalangan Remaja: Bagaimana Cara Menanganinya?

Mengapa Anak Cerdas Itu Terkadang Belum Tentu Berprestasi di Sekolah?

Banyak orang tua beranggapan bahwa anak yang cerdas pasti akan otomatis meraih prestasi gemilang di sekolah. Namun kenyataannya, tidak sedikit anak dengan kemampuan intelektual tinggi justru menunjukkan hasil akademik yang biasa saja—bahkan ada yang cenderung menurun dari waktu ke waktu.

Kondisi ini kerap menimbulkan kebingungan, kekecewaan, hingga munculnya anggapan bahwa anak “kurang berusaha” atau “tidak serius belajar”. Padahal, prestasi akademik tidak semata-mata ditentukan oleh tingkat kecerdasan. Ada berbagai faktor tersembunyi yang memengaruhi bagaimana anak belajar, beradaptasi, dan berkembang di lingkungan sekolah. Lantas, mengapa anak yang cerdas belum tentu berprestasi secara akademik? Mari kita telaah bersama lebih dalam.

 

Rasa Ingin Tahu yang Mendalam

Orang dengan tingkat kecerdasan tinggi umumnya memiliki rasa ingin tahu yang besar. Mereka gemar mencari tahu, mendalami topik tertentu, dan kerap tenggelam dalam eksplorasi intelektual. Namun, rasa ingin tahu ini tidak selalu sejalan dengan apa yang diajarkan di sekolah.

Alih-alih fokus mengikuti kurikulum yang tersedia, mereka cenderung memilih mendalami hal-hal yang dianggap lebih relevan atau menarik secara pribadi. Kecenderungan ini membuat mereka kesulitan menyesuaikan diri dengan sistem pendidikan formal, yang sering kali terasa membosankan, terlalu kaku, atau tidak sesuai dengan minat dan kebutuhan intelektual mereka.

 

Kesadaran Emosional yang Tinggi

Beberapa individu dengan tingkat kecerdasan tinggi juga memiliki kesadaran emosional yang mendalam. Hal ini membuat mereka lebih tertarik pada hubungan interpersonal atau isu-isu kemanusiaan, yang mereka anggap lebih bermakna dibanding sekadar pencapaian akademik.

Alih-alih menghabiskan waktu untuk menghafal rumus atau fakta, mereka lebih memilih memahami manusia, emosi, nilai moral, dan kompleksitas interaksi sosial. Bagi mereka, kecerdasan bukan hanya soal logika dan angka, tetapi juga tentang empati, refleksi, dan makna di balik kehidupan.

 

Perfeksionisme yang Menghambat

Perfeksionisme bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, ia mendorong seseorang untuk mencapai standar yang tinggi. Namun di sisi lain, ia juga bisa menjadi penghambat.

Banyak individu cerdas menetapkan ekspektasi tinggi terhadap diri mereka sendiri. Karena takut tidak mampu memenuhi standar tersebut, mereka justru cenderung menunda-nunda tugas, atau bahkan menghindarinya sepenuhnya. Ketakutan akan kegagalan dan ketidaksempurnaan membuat mereka merasa tertekan sebelum sempat memulai.

 

Dari luar, mereka mungkin tampak malas atau tidak termotivasi. Namun sesungguhnya, mereka sedang bergulat dengan tekanan internal yang tidak terlihat—sebuah ketakutan mendalam untuk tidak menjadi “cukup baik”.

BACA JUGA: Lebih Baik Sekolah Negeri atau Swasta? Mana sih yang Lebih Baik untuk Masa Depan Anak?

3 Tanda Anak Anda Mengalami Tekanan Akademik Diam-Diam

Prestasi akademik sering kali dijadikan tolok ukur utama keberhasilan seorang anak. Nilai yang tinggi, peringkat kelas, dan sederet target belajar kerap membuat orang tua merasa tenang dan bangga. Namun, di balik senyum anak dan ucapan “aku baik-baik saja”, bisa saja tersembunyi tekanan yang tidak pernah mereka ungkapkan.

Tanpa disadari, tuntutan akademik yang berlebihan dapat berdampak pada kesehatan mental dan emosional anak. Tekanan ini bisa membuat mereka merasa kewalahan, kehilangan motivasi, bahkan menarik diri secara perlahan. Lalu, bagaimana cara mengetahui apakah anak Anda sebenarnya sedang berjuang dalam diam? Berikut adalah tiga tanda tekanan akademik yang sering luput dari perhatian orang tua.

 

Menghindari Aktivitas Sosial dan Kehilangan Minat Pada Hobi

Apakah anak Anda yang dulu aktif dan punya banyak teman kini lebih sering mengurung diri di kamar? Atau mungkin mereka mulai menolak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang dulu sangat mereka sukai?

Perubahan ini bisa menjadi sinyal bahwa si kecil sedang menghadapi tekanan sosial di sekolah—seperti bullying, kesulitan bersosialisasi, atau rasa tidak aman di lingkungan sekitarnya. Ketika anak kehilangan minat pada hobi atau kegiatan yang sebelumnya mereka nikmati, ini merupakan tanda peringatan serius yang tidak boleh diabaikan.

Stres yang berkepanjangan dapat mengikis motivasi dan menghilangkan kesenangan dalam aktivitas sehari-hari. Anak mungkin merasa terlalu lelah secara mental dan emosional, sehingga enggan terlibat dalam kegiatan yang sebenarnya bisa membantu meredakan stres mereka.

 

Perubahan Nafsu Makan

Stres bisa memengaruhi banyak aspek dalam kehidupan anak, termasuk pola makannya. Nafsu makan mereka bisa berubah secara drastis—naik atau justru menurun.

Jika anak terlihat susah makan, mereka mungkin beralasan bahwa makanannya tidak enak atau merasa tidak lapar. Namun, di balik itu, bisa saja ada tekanan emosional yang sedang mereka hadapi. Sebaliknya, jika nafsu makannya meningkat, anak bisa jadi lebih sering ngemil, merasa cepat lapar, atau terus mencari makanan meski baru saja makan. Pola makan seperti ini juga bisa menjadi cara tubuh merespons stres secara tidak sadar.

 

Merasa Takut

Salah satu ciri stres pada si kecil yang sering luput dari perhatian adalah munculnya rasa takut yang tiba-tiba. Anak yang biasanya berani, tiba-tiba menjadi takut berada sendiri, gelisah saat berada di ruangan gelap, cemas jika ditinggal orang tua, atau merasa tidak nyaman saat bertemu orang asing.

Jika sebelumnya si kecil dikenal cukup percaya diri dan tidak mudah takut, perubahan perilaku ini bisa menjadi sinyal bahwa mereka sedang mengalami tekanan atau stres emosional. Perubahan ini adalah bentuk respon alamiah tubuh terhadap rasa tidak aman atau ketidaknyamanan yang sulit mereka ungkapkan dengan kata-kata.

BACA JUGA: Mengapa Anak Cerdas Itu Terkadang Belum Tentu Berprestasi di Sekolah?

Rekomendasi Sekolah Dasar Terbaik di Kota Tangerang

Memilih sekolah dasar bukan sekadar menentukan tempat anak belajar, tetapi juga menetapkan fondasi awal bagi perjalanan panjang masa depannya. Di Kota Tangerang, tersedia beragam pilihan sekolah dasar. Masing-masing menghadirkan pendekatan pendidikan, nilai-nilai, dan lingkungan belajar yang unik.

Agar anak dapat tumbuh dengan rasa nyaman, percaya diri, dan semangat belajar yang tinggi, orang tua perlu mengenali sekolah. Sekolah terbaik yang mampu mengembangkan potensi anak sejak langkah pertamanya dalam dunia pendidikan formal. Pilihan yang tepat akan menjadi bekal penting bagi tumbuh kembang anak, baik secara akademik maupun emosional.

 

SD Negeri Tangerang 1

SD Negeri Tangerang 1, yang berdiri sejak tahun 1910 dan berlokasi di Kecamatan Tangerang, merupakan salah satu sekolah dasar tertua di wilayah tersebut. Sekolah ini telah meraih akreditasi A pada tahun 2021, sebagai bukti komitmennya terhadap mutu pendidikan yang tinggi.

Sebagai sekolah Adiwiyata, SD Negeri Tangerang 1 aktif menggelar berbagai kegiatan peduli lingkungan. Seperti penanaman tanaman dan pohon, baik di dalam maupun di luar area sekolah. Program ini menjadi bagian dari upaya menanamkan kepedulian lingkungan kepada para siswa sejak dini.

 

SD Islam Al Syukro Universal

Sekolah Dasar Islam Al Syukro Universal menerapkan konsep Islamic Full Day School dengan menggunakan Kurikulum K13 yang diperkaya dengan penguatan nilai-nilai keislaman. Kegiatan pembiasaan seperti salat Duha, zikir bersama, serta salat Zuhur dan Asar berjamaah menjadi bagian dari rutinitas harian siswa untuk menanamkan kebiasaan baik dan kedisiplinan sejak dini.

Sebagai sekolah mitra dalam program BRIDGE (Building Relationships through Intercultural Dialogue and Growing Engagement). Yang bekerja sama dengan Clovelly Park Primary School di Adelaide, Australia. SD Islam Al Syukro Universal juga memberikan perhatian khusus pada penguatan Bahasa Inggris. Kegiatan seperti greeting, literasi, percakapan (speaking), wall magazine, dan penulisan short functional text untuk aktivitas sehari-hari diterapkan secara konsisten sebagai bagian dari pembiasaan yang menyenangkan dan aplikatif.

 

SD Negeri Karawaci Baru 1

Berbagai prestasi membanggakan telah diraih oleh para siswa SD Negeri Karawaci Baru 1, Bunda. Prestasi-prestasi ini menjadi bukti nyata semangat belajar dan dedikasi tinggi yang dimiliki oleh anak-anak di sekolah ini.

Mulai dari kejuaraan Dispora Beraksi, ajang nasional Kapolres Golden Eagle, hingga Hobbyland Taekwondo Championship, para siswa tampil gemilang dan membawa pulang kebanggaan bagi sekolah dan orang tua. Dukungan guru dan pembinaan yang konsisten turut menjadi kunci di balik pencapaian luar biasa ini.

BACA JUGA: Pentingnya Membiasakan Literasi Sejak Usia Dini!

Bagaimana Cara Mengatasi Siswa yang Bandel di Sekolah?

Setiap perilaku anak di sekolah selalu menyimpan cerita di baliknya. Ketika seorang siswa dianggap “bandel”, yang sering terlihat hanyalah perilakunya di permukaan—bukan latar belakang atau alasan yang melandasinya. Padahal, memahami apa yang sebenarnya terjadi di balik sikap tersebut bisa menjadi kunci penting dalam mendampingi proses tumbuh kembang anak.

Dengan pendekatan yang tepat, guru dan orang tua tak hanya bisa meredam perilaku negatif, tetapi juga membantu siswa/siswi merasa dipahami, diterima, dan diarahkan menuju perubahan yang lebih positif. Pemahaman yang penuh empati ini membuka ruang bagi anak untuk berkembang, bukan sekadar dikoreksi.

 

Beri Peringatan Dengan Halus Atau Secara Nonverbal Saja

Guru mana pun pasti pernah merasa terganggu saat suasana kelas menjadi gaduh di tengah proses belajar mengajar. Namun, hal penting yang perlu diingat adalah: hindari mengatasi kegaduhan dengan membentak atau menaikkan suara. Semakin keras suara guru, siswa justru cenderung akan ikut-ikutan menaikkan volume suara mereka. Selain itu, berteriak hanya akan menguras energi dan emosi, tanpa menghasilkan perubahan yang berarti.

Lalu, apa yang bisa dilakukan? Cobalah memberikan peringatan melalui isyarat tubuh. Misalnya, meletakkan telunjuk di depan bibir sambil diam dan menatap mereka satu per satu, atau menghitung mundur dengan suara tenang. Untuk siswa sekolah dasar, guru bisa mengalihkan perhatian mereka dengan cara yang lebih menyenangkan, seperti menyanyikan lagu yang mereka sukai. Ajak mereka ikut bernyanyi bersama, lalu arahkan kembali fokus mereka ke pelajaran. Cara ini tak hanya efektif, tetapi juga menjaga suasana kelas tetap positif dan kondusif.

 

Berhenti Melabeli Siswa

Guru bisa mulai membiasakan diri untuk melihat sisi positif dari setiap siswa, karena pada dasarnya setiap anak memiliki keunikan dan potensi yang layak diapresiasi. Terkadang, perilaku siswa yang tampak “berulah” hanyalah cara mereka mencari perhatian dari guru atau orang dewasa di sekitarnya.

Berikan pujian, sekecil apa pun itu, ketika siswa menunjukkan perilaku positif. Ketika merasa dihargai, mereka akan lebih senang dan termotivasi untuk mempertahankan sikap baiknya. Perhatian positif seperti ini dapat menjadi dorongan besar dalam membangun hubungan yang sehat antara guru dan siswa, sekaligus menciptakan suasana kelas yang lebih harmonis.

 

Jadilah Pendengar yang Baik

Salah satu cara efektif untuk menghadapi siswa yang sulit diatur adalah dengan menjadi pendengar yang baik. Tak jarang, siswa yang tampak memberontak di kelas sebenarnya adalah anak-anak yang merasa kurang mendapat perhatian atau sedang memendam masalah pribadi.

Pendekatan secara personal, misalnya dengan mengajaknya berbicara santai di luar konteks pelajaran, bisa membuka ruang bagi siswa untuk mengungkapkan isi hatinya. Ketika mereka merasa didengar dan dipahami, hubungan dengan guru pun menjadi lebih kuat, dan perilaku yang semula sulit perlahan dapat berubah menjadi lebih positif.

BACA JUGA: Rekomendasi Sekolah Dasar Terbaik di Kota Tangerang

Sekolah Menengah Pertama Terbaik di Kota Pontianak, Cocok untuk Si Kecil yang Baru Lulus SD

Setiap anak membawa cerita uniknya sendiri saat melewati gerbang SD untuk terakhir kalinya dan bersiap melangkah ke jenjang berikutnya. Di momen penting ini, peran orang tua sangatlah krusial—bukan hanya dalam memilih sekolah di Pontianak yang mengajarkan pelajaran akademis. Tetapi juga yang mampu membentuk karakter, membangun kepercayaan diri, dan membantu anak menemukan serta mengembangkan potensi terbaiknya.

Di Kota Pontianak, tersedia berbagai pilihan Sekolah Menengah Pertama dengan karakter dan keunggulannya masing-masing. Semuanya layak dipertimbangkan sebagai tempat yang mendukung proses tumbuh kembang anak setelah lulus SD.

 

SMP Al-Azhar Pontianak

SMP Al-Azhar Pontianak adalah salah satu sekolah swasta yang cukup dikenal di kota ini. Terutama karena pendekatan pendidikannya yang berbasis pada nilai-nilai agama. Dengan menggabungkan ilmu pengetahuan umum dan pendidikan agama, sekolah ini berkomitmen memberikan pengalaman belajar yang seimbang—tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga menekankan pada pembentukan karakter dan moral siswa.

Dari segi fasilitas, SMP Al-Azhar Pontianak menyediakan lingkungan belajar yang mendukung. Sekolah ini dilengkapi dengan ruang kelas modern, laboratorium, serta lapangan olahraga yang memadai. Para siswanya pun telah menunjukkan prestasi yang membanggakan, baik dalam bidang akademik maupun kegiatan ekstrakurikuler seperti olahraga dan seni.

 

SMP Negeri 10 Pontianak

SMP Negeri 10 Pontianak merupakan salah satu sekolah negeri unggulan yang terletak di Jalan W.R. Supratman, Benua Melayu Darat, Kecamatan Pontianak Selatan. Sekolah ini menerapkan sistem pembelajaran lima hari dalam seminggu, dengan pembagian siswa ke dalam sembilan rombongan belajar di setiap tingkat kelasnya. Hal ini memungkinkan proses belajar mengajar berlangsung lebih terstruktur dan efisien. Sebagai sekolah yang telah meraih akreditasi A sejak tahun 2021, SMP Negeri 10 Pontianak terus menjaga standar mutu pendidikan yang tinggi.

Fasilitas yang tersedia di sekolah ini cukup mendukung kegiatan belajar, meliputi ruang kelas, toilet, perpustakaan, dan laboratorium IPA. Selain itu, SMP Negeri 10 juga memiliki laboratorium bahasa dan komputer. Namun, saat ini kedua fasilitas tersebut berada dalam kondisi yang tidak optimal dan memerlukan perbaikan agar dapat digunakan secara maksimal dalam proses pembelajaran.

 

SMP Negeri 1 Pontianak

SMP Negeri 1 Pontianak merupakan salah satu sekolah menengah pertama unggulan di kota ini. Dikenal dengan kualitas pendidikan yang sangat baik, sekolah ini menawarkan program akademik yang mendalam. Serta beragam kegiatan ekstrakurikuler yang mendukung pengembangan karakter dan bakat siswa. Didukung oleh fasilitas lengkap seperti laboratorium, ruang kelas yang nyaman, dan area olahraga yang luas, SMP Negeri 1 menjadi pilihan utama bagi banyak orang tua yang menginginkan pendidikan terbaik untuk anak-anak mereka.

Tak hanya unggul dalam sistem pembelajaran, SMP Negeri 1 Pontianak juga berhasil meraih berbagai prestasi di tingkat lokal maupun nasional. Prestasi tersebut mencakup bidang akademik, seperti olimpiade sains dan matematika, serta bidang non-akademik seperti olahraga dan seni, yang menunjukkan keseimbangan antara pengembangan intelektual dan potensi diri siswa secara menyeluruh.

BACA JUGA: Bagaimana Cara Mengatasi Siswa yang Bandel di Sekolah?

Cara Mengawasi atau Menemani Anak Dengan Baik Saat ia Sedang Belajar

Belajar bukan hanya soal menyelesaikan buku dan tugas—lebih dari itu, proses belajar membutuhkan pendampingan yang tepat dari orang tua atau pengasuh. Anak-anak tidak hanya membutuhkan bantuan akademik, tetapi juga dukungan emosional yang membuat mereka merasa aman, dihargai, dan didorong untuk terus berkembang.

Dengan cara mengawasi yang baik, orang tua dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan efektif. Pendekatan yang penuh empati, tanpa tekanan berlebihan, akan membuat anak lebih fokus, percaya diri, dan menikmati proses belajar. Pendampingan seperti inilah yang dapat membentuk kebiasaan belajar positif hingga dewasa nanti.

 

Jadikan Sesi Belajar itu Seperti Bermain

Anak bisa diajarkan aturan main saat mengajar di rumah. Salah satu caranya adalah dengan mengenalkan rutinitas harian yang jelas—pukul berapa ia harus belajar, kapan waktu bermain, dan kapan mengerjakan tugas sekolah. Rutinitas ini tidak hanya membantu anak lebih disiplin, tetapi juga memberi rasa aman karena mereka tahu apa yang diharapkan setiap harinya. Selain itu, waktu belajar bersama orang tua juga perlu diatur dengan baik, terutama jika orang tua sedang bekerja dari rumah.

Sepakati jadwal belajar bersama dan berkomitmenlah untuk menjalaninya. Misalnya, jika sudah ditentukan bahwa pukul 16.00 adalah waktu belajar bersama, maka pada jam tersebut orang tua sebaiknya tidak menjadwalkan pertemuan kerja. Jika memang terjadi bentrok, cari waktu alternatif dan pegang komitmen: di waktu yang telah disepakati, orang tua fokus mendampingi, dan anak pun fokus belajar—tanpa terganggu aktivitas lain. Konsistensi ini akan menumbuhkan disiplin, tanggung jawab, dan rasa saling menghargai antara anak dan orang tua.

 

Beri Sebuah Hadiah Agar Anak Semakin Semangat

Untuk anak-anak usia prasekolah, taman kanak-kanak, atau kelas 1 SD, mengikuti sekolah daring dan menyelesaikan tugas bisa menjadi tantangan tersendiri. Wajar jika mereka merasa cepat bosan atau kesulitan fokus. Dalam hal ini, orang tua bisa membantu dengan memberikan bentuk apresiasi yang positif. Misalnya, memberikan hadiah kecil ketika anak berhasil menyelesaikan tugas atau mengikuti kelas daring sampai selesai.

Hadiah tersebut tidak perlu berupa sesuatu yang besar. Cukup dengan memberi waktu bermain video game sedikit lebih lama, atau menyuguhkan camilan favoritnya, bisa menjadi bentuk motivasi yang menyenangkan bagi anak.

 

Buat Suasana yang Positif

Banyak orang tua cenderung hanya fokus pada progres besar dan melewatkan pencapaian kecil. Padahal, sekecil apa pun kemajuannya, itu tetaplah langkah berarti. Jangan ragu untuk memuji anak saat ia berhasil menyelesaikan satu atau dua soal, atau ketika ia menghafal rumus dengan baik. Pujian dan afirmasi positif sangat penting untuk menjaga semangat belajarnya tetap menyala hingga sesi belajarnya selesai.

Sebisa mungkin, hindari memaksa anak untuk terus belajar tanpa jeda. Jika suasana mulai terasa tegang atau negatif, berikan waktu istirahat sejenak. Ajak anak melakukan aktivitas menyenangkan untuk memulihkan suasana hati, baik anak maupun orang tua. Setelah mood membaik, barulah ajak anak kembali belajar dengan suasana yang lebih positif.

BACA JUGA: Sekolah Menengah Pertama Terbaik di Kota Pontianak, Cocok untuk Si Kecil yang Baru Lulus SD

Pentingnya Membiasakan Literasi Sejak Usia Dini!

Literasi adalah jendela dunia, dan usia dini merupakan waktu terbaik untuk membukanya. Saat anak dikenalkan dengan literasi sejak awal, ia tidak hanya belajar membaca dan menulis, tetapi juga mulai memahami dunia di sekitarnya. Melalui cerita, gambar, dan bahasa, anak mengembangkan imajinasi, rasa ingin tahu, serta kemampuan berpikir kritis sejak usia dini.

Semakin dini literasi diperkenalkan, semakin kuat pula pondasi pengetahuan dan karakter yang akan dibentuk. Literasi bukan sekadar keterampilan akademik, melainkan dasar penting untuk membangun kepercayaan diri, empati, serta kemampuan berkomunikasi yang efektif—semua hal yang akan sangat berperan dalam kesuksesan anak di masa depan.

 

Meningkatkan keterampilan Anak untuk Berpikir Kritis

Pendidikan literasi mendorong anak-anak untuk berpikir kritis dan analitis. Melalui proses literasi, mereka belajar menganalisis informasi, mempertanyakan asumsi, serta menarik kesimpulan berdasarkan bukti yang tersedia. Keterampilan ini sangat krusial, terutama di era digital saat ini yang dipenuhi dengan informasi beragam—bahkan seringkali membingungkan atau menyesatkan. Literasi yang kuat menjadi bekal utama agar anak mampu memilah mana informasi yang valid dan mana yang perlu diragukan.

Menurut Dr. Rebecca D. Silverman, pakar pendidikan dari Universitas Washington, “Anak-anak yang terlibat dalam pendidikan literasi yang baik cenderung lebih mampu menilai dan menganalisis informasi, yang memungkinkan mereka untuk menjadi pembaca dan penulis yang lebih efektif.” Pernyataan ini memperkuat pentingnya pendidikan literasi sejak dini sebagai fondasi bagi generasi yang cerdas, reflektif, dan mampu berpikir mandiri.

 

Bangun Imajinasi anak

Saat mendengarkan atau membaca cerita, anak anak cenderung membayangkan dirinya sebagai tokoh yang ada dalam buku. Proses ini tidak hanya menyenangkan, tetapi juga mampu merangsang imajinasi dan mengembangkan kreativitas mereka. Melalui dunia yang dibangun dari kata kata. Anak belajar melihat berbagai perspektif, memecahkan masalah, dan memahami emosi dari sudut pandang yang berbeda.

Seperti yang dijelaskan dalam kutipan berikut: “Dengan kebiasaan membacakan buku cerita, anak akan mendapatkan banyak informasi dan ide yang mungkin belum didapat dari pengalaman sehari-hari. Hal ini dapat menstimulasi kemampuan berpikir kritis dan imajinasi anak, di mana anak dapat membayangkan dirinya sebagai karakter cerita atau situasi yang ada di dalam buku cerita.” Membacakan cerita bukan sekadar kegiatan pengantar tidur—tetapi sebuah stimulasi intelektual yang memperkaya dunia batin anak.

 

Mempersiapkan Anak untuk Masa Depan

Di dunia yang semakin kompetitif, keterampilan literasi menjadi salah satu bekal utama untuk menghadapi tantangan masa depan. Banyak bidang pekerjaan saat ini menuntut kemampuan membaca, menulis, dan memahami informasi secara kritis. Pendidikan literasi sejak dini memberikan fondasi yang kuat bagi anak-anak agar mampu meraih kesuksesan, baik dalam jenjang pendidikan yang lebih tinggi maupun di dunia kerja profesional.

 

Seperti yang disampaikan oleh Dr. James P. Spillane, profesor pendidikan di Universitas Northwestern: “Menguasai keterampilan literasi adalah langkah awal yang krusial dalam mempersiapkan anak-anak untuk tantangan masa depan mereka.” Kutipan ini menegaskan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan dasar, melainkan pintu gerbang menuju perkembangan intelektual dan kemandirian dalam kehidupan.

BACA JUGA: Cara Mengawasi atau Menemani Anak Dengan Baik Saat ia Sedang Belajar